Media-publik.id Lebak — Seren Taun Kasepuhan Cisungsang, Kabupaten Lebak, Banten, kembali digelar dengan membawa tradisi adat ke panggung pariwisata nasional melalui Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Perhelatan yang berlangsung pada 21–28 September 2026 itu tidak hanya menghadirkan rangkaian ritual adat, tetapi juga berbagai kegiatan pendukung, mulai dari bazar pangan lokal dan UMKM, Festival Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), gastronomi pangan lokal, pertunjukan seni, seminar, permainan tradisional hingga olahraga.
Masuknya Seren Taun dalam KEN 2026 sekaligus membuka ruang bagi masyarakat lokal untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari meningkatnya aktivitas wisata.
Sekretaris Lembaga Adat Kasepuhan Cisungsang, Henriana Hatra Wijaya, mengatakan penyelenggaraan Seren Taun tahun ini memang dirancang dengan mempertimbangkan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Penyelenggara menargetkan 50.000 pengunjung, terdiri dari sekitar 40.000 pengunjung lokal dan 10.000 pengunjung nasional. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan catatan 2025 yang mencapai 16.800 pengunjung.
“Seren Taun Kasepuhan Cisungsang 2026 memang dirancang dengan mempertimbangkan dampak ekonomi bagi masyarakat,” kata Henriana, Selasa (30/09).
Untuk mendukung aktivitas ekonomi, penyelenggara menargetkan keterlibatan sekitar 350 UMKM atau stan, 50 akomodasi berupa homestay dan hotel, serta lima operator tur atau paket perjalanan wisata.
Dari rangkaian kegiatan tersebut, nilai transaksi ekonomi diproyeksikan mencapai Rp5,5 miliar, meningkat dibandingkan sekitar Rp1,5 miliar pada penyelenggaraan sebelumnya.
Henriana mengatakan kehadiran wisatawan diharapkan tidak sekadar menciptakan keramaian, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat yang menjadi pemilik kebudayaan.
Target tersebut masih merupakan proyeksi penyelenggara dan bukan angka realisasi. Namun, proyeksi itu menunjukkan Seren Taun mulai dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat, tanpa menghilangkan nilai adat yang menjadi fondasinya.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eli Susiyanti, menekankan pentingnya menjaga budaya dan lingkungan dalam pengembangan pariwisata di Banten.
Menurutnya, kebudayaan merupakan salah satu kekuatan utama pariwisata. Seren Taun tidak hanya memperkenalkan tradisi masyarakat Kasepuhan kepada wisatawan, tetapi juga membuka ruang bagi berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.
“Perlu menjaga budaya dan lingkungan sebagai bagian dari pembangunan pariwisata Banten yang berkelanjutan,” ujar Eli dalam sambutannya pada Seren Taun Kasepuhan Cisungsang 2026
Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Dr. Yosep Mohamad Holis.
Menurut Yosep, kekuatan Cisungsang tidak hanya terletak pada ritual Seren Taun, tetapi juga pada berbagai kesenian dan kearifan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.
Karena itu, pengembangan pariwisata di kawasan tersebut tidak semestinya menempatkan masyarakat adat hanya sebagai objek wisata. Masyarakat harus tetap menjadi bagian utama dalam menentukan bagaimana kebudayaan mereka diperkenalkan kepada publik.
Upaya menghubungkan kebudayaan dengan ekonomi masyarakat juga terlihat melalui Bazar Pangan Lokal Kasepuhan Cisungsang.
Sejumlah pangan tradisional, seperti papais, bugis, opak, uli, ali, dodol dan gengsot, diperkenalkan dalam rangkaian kegiatan. Selain bazar, terdapat pula workshop gastronomi yang melibatkan perempuan adat dan pemuda adat.
Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan pangan lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Salah satunya melalui Daripohonaren, usaha milik pemuda adat Juhendi yang mengembangkan produk berbasis gula aren.
Keterlibatan usaha tersebut menunjukkan bahwa generasi muda masyarakat adat dapat mengambil peran dalam mengembangkan potensi lokal menjadi produk ekonomi kreatif tanpa harus meninggalkan identitas budaya asalnya.
Bagi pelaku usaha, kegiatan seperti Seren Taun juga menjadi kesempatan untuk mempertemukan produk masyarakat adat dengan konsumen dari luar daerah.
Di tengah peluang ekonomi dan pariwisata yang semakin besar, Seren Taun tetap memiliki nilai adat yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat Kasepuhan Cisungsang.
Seren Taun merupakan ritual puncak sekaligus refleksi masyarakat Kasepuhan dalam memperkuat jati diri sebagai masyarakat peladang yang menjaga keseimbangan alam dan lingkungan.
Henriana menekankan pentingnya menempatkan masyarakat adat sebagai subjek utama dalam pengembangan pariwisata di Cisungsang.
“Seren Taun tidak lahir sebagai pertunjukan wisata. Tradisi tersebut telah hidup jauh sebelum masuk ke kalender pariwisata nasional,” ujarnya.
Menurut dia, wisatawan datang untuk menyaksikan tradisi yang memang masih dijalankan masyarakat. Karena itu, tantangan pengembangan pariwisata adalah memastikan promosi budaya dapat memperluas manfaat ekonomi tanpa menggeser makna dan nilai adat.
Masuknya Seren Taun ke dalam KEN 2026 memberikan peluang bagi Kasepuhan Cisungsang untuk memperkenalkan budaya sekaligus produk masyarakat kepada khalayak yang lebih luas.
Namun, keberhasilan kegiatan tersebut tidak cukup diukur dari jumlah pengunjung maupun kemeriahan acara.
Keterlibatan UMKM, terbukanya pasar baru bagi produk lokal, partisipasi pemuda dan perempuan adat, serta keberlanjutan manfaat ekonomi setelah rangkaian kegiatan berakhir menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Target perputaran ekonomi Rp5,5 miliar menunjukkan besarnya harapan terhadap dampak ekonomi Seren Taun. Namun, manfaat nyata baru dapat dilihat dari seberapa besar aktivitas ekonomi tersebut benar-benar berputar dan dirasakan masyarakat setempat.
Pada akhirnya, Seren Taun Cisungsang di panggung KEN 2026 memperlihatkan bahwa tradisi dan kebudayaan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata dan ekonomi lokal.
Tantangannya adalah memastikan masyarakat Kasepuhan tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi tetap menjadi subjek utama yang menentukan arah kebudayaannya sekaligus menerima manfaat dari berkembangnya pariwisata di wilayah mereka sendiri. (David)
