Media PublikMedia Publik
Font ResizerAa
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Opini Publik
  • Hukum & Kriminal
  • Olahraga
  • Sosok
Font ResizerAa
Media PublikMedia Publik
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Opini Publik
  • Hukum & Kriminal
  • Olahraga
  • Sosok
Search
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Hiburan
  • Opini Publik
  • Hukum & Kriminal
  • Olahraga
  • Sosok
Follow US

Gus Rozin Menjemput Aspirasi, Merajut Kekuatan NU dari Daerah

Last updated: August 26, 2026 2:46 am
Redaksi
Published: August 26, 2026
Daerah
6 Min Read
Gus Rozin
SHARE

Media-Publik.co Semarang – Di tengah kesibukan menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), ada satu kebiasaan yang berulang dalam perjalanan calon Ketua Umum PBNU KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin saat menemui pengurus NU di berbagai daerah: mendengar, mencatat, dan menyimak.

Kebiasaan itu terlihat dalam berbagai forum silaturahmi yang digelar di sejumlah daerah, mulai dari Bengkulu, Yogyakarta, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Timur hingga Madura.

Ketika pengurus NU menyampaikan pandangan, pengalaman, kritik, maupun harapan, Gus Rozin terlihat memberikan perhatian penuh. Ia menyimak pembicaraan, sesekali mengangguk, dan mencatat sejumlah poin yang disampaikan.

Dalam forum-forum tersebut, Gus Rozin tidak selalu menjadi sosok yang paling banyak berbicara. Ia justru memberikan ruang kepada pengurus NU di daerah untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan dan pikirkan mengenai kondisi serta masa depan organisasi.

Kebiasaan sederhana itu menjadi menarik di tengah kontestasi menuju kepemimpinan PBNU. Sebab, seorang calon pemimpin umumnya hadir untuk menyampaikan gagasan dan meyakinkan peserta. Gus Rozin memilih melengkapinya dengan cara lain: datang untuk mendengar lebih dahulu.

Perjalanan silaturahmi Gus Rozin mempertemukannya dengan pengurus NU dari berbagai latar belakang dan karakter daerah. Setiap wilayah memiliki persoalan dan kebutuhan yang tidak selalu sama.

Ada yang berbicara mengenai penguatan struktur organisasi, pesantren, kaderisasi, ekonomi jamaah, kemandirian organisasi, hingga hubungan NU dengan pemerintah dan masyarakat.

Dari berbagai percakapan tersebut, satu tema terus mengemuka: kebutuhan agar suara dari bawah mendapatkan ruang yang lebih besar dalam menentukan arah NU.

Gagasan itu pula yang disampaikan Gus Rozin dalam berbagai pertemuan. Menurut dia, PBNU ke depan harus memiliki kemampuan untuk mendengar suara pengurus cabang, pesantren, dan jamaah. Dengan demikian, kebijakan organisasi tidak hanya dirumuskan dari pusat.

“NU tidak akan besar kalau yang kuat hanya PBNU. Yang harus kita kuatkan justru cabang-cabangnya, pesantrennya, jamaahnya. Kalau mereka kuat, dengan sendirinya NU juga akan kuat,” kata Gus Rozin.

Bagi Ketua PWNU Jawa Tengah tersebut, kekuatan NU tidak semata-mata berada di pusat organisasi. Kekuatan itu tersebar di pesantren, struktur NU di daerah, serta jutaan jamaah yang menjalani kehidupan sehari-hari dengan berbagai persoalan.

Karena itu, mendengar suara mereka menjadi bagian penting untuk memahami kebutuhan organisasi secara utuh.

Kebiasaan Gus Rozin mencatat juga terlihat berulang dalam berbagai pertemuan. Di tengah forum yang dihadiri pengurus NU, ia membawa catatan dan menuliskan sejumlah masukan yang muncul dalam pembicaraan.

Tidak semua catatan langsung mendapat tanggapan pada saat itu. Sebagian menjadi bahan untuk percakapan dan pembahasan berikutnya.

Bagi organisasi sebesar NU, kebiasaan tersebut memiliki arti tersendiri. NU memiliki struktur organisasi yang panjang, mulai dari PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU hingga ranting. Di luar struktur tersebut terdapat pesantren, lembaga pendidikan, badan otonom, serta jamaah yang hidup dalam kondisi sosial yang sangat beragam.

Persoalan NU di Bengkulu tidak selalu sama dengan persoalan di Yogyakarta. Kebutuhan jamaah di Kalimantan dapat berbeda dengan kebutuhan warga NU di Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Timur, maupun Madura.

Karena itu, pemimpin yang hendak merumuskan kebijakan nasional membutuhkan pemahaman terhadap keragaman tersebut. Catatan-catatan yang dibuat Gus Rozin menjadi bagian dari proses mengumpulkan pengalaman dan persoalan dari tingkat lokal.

Namun, mencatat tentu bukan tujuan akhir. Masukan harus diolah menjadi gagasan, gagasan diterjemahkan menjadi kebijakan, dan kebijakan pada akhirnya harus kembali kepada jamaah dalam bentuk pelayanan dan kemanfaatan.

Dalam kontestasi kepemimpinan, kemampuan berbicara biasanya menjadi salah satu modal utama. Calon pemimpin dituntut menjelaskan visi, menyampaikan program, sekaligus menawarkan solusi.

Namun, ada kemampuan lain yang tidak kalah penting: kemampuan untuk mendengarkan.

Mendengar membutuhkan kesediaan memberikan ruang kepada orang lain. Menyimak membutuhkan perhatian. Sementara mencatat membutuhkan kesungguhan agar masukan tidak berlalu begitu saja.

Dalam konteks NU, kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena organisasi memiliki keragaman suara yang sangat luas.

Ada suara kiai dan pengasuh pesantren, pengurus cabang, kader muda, jamaah, hingga pengalaman daerah yang tidak selalu terlihat dari pusat.

Seorang Ketua Umum PBNU tidak mungkin mengetahui seluruh persoalan hanya dari Jakarta. Ia harus datang ke daerah, duduk bersama pengurus, dan mendengarkan cerita mereka.

Rangkaian perjalanan Gus Rozin dari Bengkulu, Yogyakarta, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Timur hingga Madura memperlihatkan pola yang relatif sama.

Ia datang menemui pengurus NU, membuka ruang dialog, kemudian lebih banyak mendengarkan, mencatat, dan menyimak sebelum menyampaikan gagasan maupun respons.

Foto-foto dari berbagai pertemuan tersebut memang hanya menangkap potongan kecil dari sebuah perjalanan panjang. Namun, ketika gestur yang sama muncul berulang kali di berbagai tempat, hal itu menjadi lebih dari sekadar dokumentasi.

Gestur tersebut dapat dibaca sebagai gambaran mengenai karakter kepemimpinan yang sedang ditawarkan Gus Rozin: pemimpin yang mau mendengar sebelum menentukan, mencatat sebelum merumuskan, dan menyimak sebelum mengambil keputusan.

Pada akhirnya, Muktamar ke-35 NU bukan hanya akan menentukan siapa yang memimpin PBNU. Muktamar juga akan menjadi momentum untuk menentukan bagaimana NU merespons perubahan zaman sekaligus menjaga hubungan dengan basis sosialnya.

Di tengah tuntutan agar NU semakin kuat di tingkat nasional dan global, ada pekerjaan yang mungkin justru paling mendasar: memastikan suara dari bawah tidak hilang ketika keputusan dibuat di atas.

Gus Rozin tampaknya memilih untuk memulai perjalanan menuju kepemimpinan dengan cara yang sederhana: mendengar, mencatat, dan menyimak.

(Akbar)

TAGGED:NUPBNU
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Threads Copy Link Print

Terbaru

Dugaan Penggelapan 17 Sertifikat Tanah, Calon Dubes RI Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
Hukum
Aab Bachtiar Turun Gunung, DPD PSI Lebak Perkuat Struktur DPC di Dapil 3
Daerah
Paradoks Finansial Gen Z: Antara Gaya Hidup Digital dan Inklusi Keuangan Syariah
Opini Publik
Tindak Lanjut Temuan BPK, Kejagung Diminta Bongkar Dugaan Korupsi di PT Pupuk Indonesia
Hukum
Cegah Kemacetan Pagi Hari, Kapolres Lebak Turun Langsung Atur Lalu Lintas di Simpang Yaspati
Daerah
Camat Curugbitung Apresiasi Pembangunan Jalan Hotmix di Desa Cilayang, Masyarakat Diimbau Menjaga dan Merawat
Daerah

You Might Also Like

Daerah

Lelang Aset Rp1,75 Miliar Berujung Gugatan, Nasabah Seret BCA ke Pengadilan

September 15, 2026
Daerah

Ribuan Hati Berkumpul di Kampung Kanaga, Merayakan Cahaya Kelahiran Sang Nabi Penuh Kasih Sayang

August 30, 2026
Daerah

Empat Kali Erupsi, Polda Banten Ingatkan Warga Waspadai Aktivitas Gunung Anak Krakatau

October 6, 2026
Daerah

Polres Lebak Sikat Komplotan Curanmor, 15 Tersangka Diamankan

August 28, 2026
Media PublikMedia Publik
Copyright (c) Media-Publik.co All Right Reserved
  • Beranda
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?