Media-Publik.co Jakarta – Aktris Anya Geraldine mencuri perhatian setelah memberikan pandangan mengenai pilihan hidup antara memiliki anak atau menjalani kehidupan tanpa anak (childfree).
Anya memilih tidak buru-buru menentukan sikap terkait pilihan tersebut. Menurutnya, keputusan memiliki anak maupun memilih childfree sangat bergantung pada perjalanan hidup dan kondisi seseorang di masa depan.
Pembahasan mengenai childfree belakangan memang semakin sering muncul di tengah generasi muda. Sebagian memilih tidak memiliki anak karena berbagai pertimbangan, sementara lainnya tetap ingin membangun keluarga dan memiliki buah hati.
Pernyataan Anya disampaikan saat membuka sesi tanya jawab melalui Instagram Stories. Seorang netizen menanyakan apakah dirinya memiliki rencana untuk childfree atau justru ingin mempunyai anak di masa depan.
Anya mengaku belum dapat memberikan jawaban pasti. Ia menilai masa depan seseorang tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana yang dibuat saat ini.
“Wah, ini pertanyaan yang agak-agak susah ya kayaknya untuk dijawab. Tapi ya semuanya itu tergantung balik lagi plan hidupnya gimana, hidup ini membawa kita ke mana, kita nggak ada yang pernah tahu,” kata Anya Geraldine,Minggu (16/8/2026).
Menurut Anya, keputusan untuk mempunyai anak juga tidak dapat dipisahkan dari kondisi kehidupan, termasuk pasangan dan rencana masa depan. Karena itu, ia merasa belum tepat jika harus menentukan pilihan tersebut sekarang.
“Kalau aku bilang sekarang aku mau punya anak, suaminya belum ada, kan nggak bisa. Kalau misal aku punya suami, terus plan hidup aku beda, bisa saja memutuskan untuk childfree,” tuturnya.
Jawaban tersebut menunjukkan Anya memandang pilihan memiliki anak sebagai keputusan personal yang dapat dipengaruhi berbagai keadaan. Apa yang diinginkan seseorang saat ini, menurutnya, belum tentu sama dengan keputusan yang diambil beberapa tahun mendatang.
Anya juga mengaku memperhatikan fenomena semakin banyak orang yang memilih childfree. Ia kemudian mengajak para pengikutnya berdiskusi mengenai pandangan mereka terhadap pilihan tersebut.
“Tapi aku nggak tahu memang sekarang orang banyak ya memutuskan untuk childfree? Menurut kalian gimana? Komen di bawah,” ujar Anya.
Sikap Anya dalam menjawab pertanyaan tersebut mendapat perhatian karena dinilai tidak menghakimi pilihan hidup orang lain. Ia tidak menganggap childfree sebagai keputusan yang salah, tetapi juga tidak menutup kemungkinan untuk memiliki anak jika kehidupannya kelak mengarah ke sana.
Bagi Anya, kehidupan masih panjang dan banyak hal yang belum dapat dipastikan. Keberadaan pasangan, perubahan prioritas, kondisi keluarga, hingga rencana hidup ke depan dapat menjadi bagian dari pertimbangan sebelum mengambil keputusan besar.
Secara pribadi, Anya disebut masih memiliki keinginan untuk mempunyai anak apabila kelak mendapat kesempatan tersebut. Namun, ia memilih menyerahkan bagaimana perjalanan hidupnya kepada kehendak Tuhan.
Cara Anya menyikapi pertanyaan mengenai childfree tersebut dinilai sejalan dengan pandangan sebagian anak muda yang tidak ingin terburu-buru menentukan masa depan. Alih-alih mengikuti tekanan sosial, keputusan untuk memiliki anak atau tidak semakin dipandang sebagai pilihan personal yang perlu disesuaikan dengan kondisi, kesiapan, dan perjalanan hidup masing-masing.
